Notification

×

Iklan

Iklan

Rencana Pacuan Kuda HUT Takengon 2026 Tuai Kritik, Pemkab Siap Evaluasi

Jumat, 17 April 2026 | April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T16:24:14Z
Dok lama pacuan kuda di lapangan Belang Bebangka, Aceh Tengah. | Editor : Tim Redaksi.


Metrogayo.com | Aceh Tengah – Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggelar pacuan kuda dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Takengon 2026 menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. Kegiatan yang direncanakan berlangsung di Lapangan Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, sebelum Iduladha 1447 Hijriah itu dinilai belum tepat dilaksanakan dalam kondisi saat ini.


Sejumlah warga menilai pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pemulihan pascabencana yang melanda wilayah Aceh Tengah pada November 2025. Mereka menilai kebutuhan masyarakat terdampak masih cukup besar, terutama dalam hal perbaikan infrastruktur dan bantuan sosial.


Sultan, warga Kecamatan Celala, menyampaikan bahwa kegiatan berskala besar seperti pacuan kuda sebaiknya ditunda sementara waktu. Ia berpendapat anggaran yang disiapkan untuk kegiatan tersebut lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membantu masyarakat yang masih kesulitan.


“Banyak warga yang masih berupaya bangkit setelah bencana. Jadi seharusnya fokus pemerintah saat ini adalah pemulihan, bukan kegiatan seremonial,” ujarnya.


Kritik serupa juga disampaikan oleh Ernawati, aktivis perempuan di Aceh Tengah. Ia menekankan pentingnya kepekaan pemerintah terhadap kondisi sosial masyarakat. Menurutnya, kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan situasi psikologis dan ekonomi warga yang belum sepenuhnya pulih.


“Pemerintah perlu menunjukkan empati. Kegiatan hiburan tentu penting, tetapi ada hal yang lebih mendesak untuk diperhatikan saat ini,” kata Ernawati.


Selain itu, aktivis Gayo, Safri Bintang, turut menyoroti pentingnya skala prioritas dalam penggunaan anggaran daerah. Ia mengingatkan agar setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas, terutama di masa pemulihan seperti sekarang.


“Jangan sampai kebijakan yang diambil justru menimbulkan kesan kurang peka terhadap kondisi masyarakat,” ucapnya.


Menanggapi berbagai kritik tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, Erwin Pratama, menyatakan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap masukan dari masyarakat. Ia menegaskan bahwa rencana pelaksanaan pacuan kuda masih akan dibahas lebih lanjut bersama berbagai pihak.


“Kami akan melakukan evaluasi dan berdiskusi dengan tokoh masyarakat serta stakeholder terkait. Semua masukan akan menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan,” ujar Erwin.


Ia menjelaskan, pacuan kuda selama ini merupakan salah satu agenda budaya yang memiliki nilai historis dan potensi wisata bagi Aceh Tengah. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga mampu menarik kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian lokal.


Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengabaikan kondisi masyarakat saat ini. Ia memastikan bahwa setiap kebijakan akan mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan mendesak warga.


“Kami ingin kegiatan ini tetap memberikan manfaat, namun juga tidak menimbulkan polemik. Karena itu, keputusan akhir akan diambil setelah melalui kajian yang matang,” katanya.


Perdebatan terkait rencana pacuan kuda ini mencerminkan dinamika aspirasi masyarakat Aceh Tengah. Di satu sisi, tradisi budaya ingin terus dilestarikan, namun di sisi lain, kebutuhan pemulihan pascabencana menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.


Masyarakat pun berharap pemerintah dapat mengambil keputusan yang bijak dan berpihak pada kepentingan bersama, sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi seluruh warga Aceh Tengah.

×
Berita Terbaru Update