![]() |
| Dokumen Lama, Saat Bencana Lalu, Akses Sulit, Perjalanan Kampung Serule ke Kantor Camat Bintang Capai Delapan Jam Berkendara. |
Langit masih gelap ketika suara itu kembali terdengar.
Tidak terlalu keras, namun cukup membuat beberapa orang terbangun dari tidur yang tak pernah benar-benar lelap. Seorang ibu refleks meraih anaknya, memeluknya lebih erat dari biasanya. Di sudut ruangan, seorang pria duduk diam, menatap pintu yang sejak malam tadi tak sempat ia kunci rapat.
Bagi mereka, ini bukan pertama kalinya.
Hari-hari di tempat itu selalu berjalan dalam bayang-bayang ketidakpastian. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan situasi akan berubah, atau apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Rasa aman terasa seperti sesuatu yang rapuh datang sebentar, lalu hilang tanpa tanda.
“Apa hari ini aman?” tanya seorang anak kecil dengan suara pelan, nyaris berbisik.
Tak ada jawaban.
Orang-orang dewasa saling berpandangan, lalu kembali diam. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka sendiri tidak memiliki kepastian.
Saat fajar mulai menyingsing, kehidupan perlahan bergerak seperti biasa. Beberapa orang keluar rumah, membuka warung kecil, menata barang dagangan, atau sekadar duduk di depan rumah sambil mengamati keadaan sekitar. Rutinitas itu seperti cara mereka melawan rasa takut dengan berpura-pura semuanya masih normal.
Namun di balik aktivitas yang terlihat tenang, tersimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar pergi.
Seorang pria paruh baya pernah mengatakan, hidup di tempat itu seperti berdiri di atas garis tipis. Satu langkah saja bisa mengubah segalanya. Hari ini mungkin terasa aman, tapi besok belum tentu sama.
Pilihan yang mereka miliki pun tidak banyak. Bertahan berarti menerima segala risiko. Pergi pun bukan perkara mudah meninggalkan rumah, kenangan, dan kehidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun bukan keputusan sederhana.
“Kami hanya ingin hidup tenang,” ujar seorang perempuan suatu sore, matanya menatap jauh ke depan. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya kelelahan yang tertahan.
Anak-anak tetap bermain, meski sesekali menoleh ke arah suara-suara yang mencurigakan. Mereka belajar lebih cepat dari seharusnya belajar membaca situasi, memahami kapan harus diam, dan kapan harus bersembunyi.
Meski begitu, harapan masih ada, sekecil apa pun.
Beberapa orang masih percaya bahwa keadaan akan berubah. Bahwa suatu hari, suara-suara yang menakutkan itu akan berhenti datang. Bahwa mereka bisa menjalani hidup tanpa rasa was-was setiap malam.
Ketika matahari akhirnya naik lebih tinggi, cahaya pagi membawa sedikit kehangatan. Pintu-pintu rumah mulai terbuka, dan orang-orang kembali melangkah keluar, menjalani hari seperti biasa.
Mereka tersenyum, berbincang, dan melanjutkan hidup seolah semuanya baik-baik saja.
Namun di dalam hati, mereka tahu, yang mereka lakukan bukan sekadar menjalani hari.
Mereka sedang bertahan.
