Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bencana Tak Padamkan Semangat Warga Ketol, Pengungsi Tetap Bekerja Demi Kebutuhan Ekonomi

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:04 WIB Last Updated 2026-09-01T06:28:39Z
Potret Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Reje Misran, SH. | Editor : Hidayat sabirun.


METRO GAYO | ACEH TENGAH – Bencana yang melanda wilayah Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, tidak serta-merta melumpuhkan semangat hidup masyarakat terdampak. Meski harus menjalani kehidupan sebagai pengungsi selama lebih dari sebulan, sebagian warga memilih tetap bekerja demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Reje Misran, SH, menyampaikan bahwa kondisi di pengungsian tidak membuat warga hanya bergantung pada bantuan. Menurutnya, banyak warga yang tetap berusaha mencari penghasilan meski dengan upah yang sangat terbatas.

“Kalau ada ongkosan ngutip kopi, kami tetap ikut. Walaupun dapat uang 50 ribu setengah hari,” ujar Misran saat ditemui awak media di Ketol, Aceh Tengah.

Masyarakat terdampak bencana di Kampung Bintang Pepara dan sekitarnya, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, termasuk para pengungsi yang saat ini menempati lokasi pengungsian di fasilitas pendidikan. Reje Misran, SH, sebagai tokoh kampung, menjadi salah satu perwakilan suara warga.

Warga pengungsi tetap memilih bekerja sebagai buruh harian, termasuk memetik kopi (ngutip kopi), meskipun upah yang diterima relatif kecil. Aktivitas ini dilakukan untuk mempertahankan kehidupan keluarga di tengah keterbatasan akibat bencana.

Kondisi ini berlangsung sejak pascabencana yang terjadi lebih dari satu bulan lalu, di mana warga terpaksa meninggalkan rumah dan menetap di lokasi pengungsian sementara.

Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Sebagian warga diketahui mengungsi di lingkungan SMP Negeri 32 Takengon dan lokasi pengungsian lainnya.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama warga tetap bekerja. Bantuan yang diterima dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan harian keluarga, sementara tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah tidak bisa ditunda.

“Bukan soal besar kecilnya uang, tapi bagaimana keluarga bisa makan hari ini,” ungkap salah satu pengungsi yang enggan disebutkan namanya.

Dengan memanfaatkan peluang kerja seadanya, warga bergabung sebagai buruh harian ketika ada panggilan kerja dari pemilik kebun kopi. Meski upah hanya sekitar Rp50 ribu untuk setengah hari kerja, mereka tetap berangkat sejak pagi hingga siang hari, lalu kembali ke pengungsian.

Reje Misran menjelaskan, semangat warga patut diapresiasi karena mereka memilih bekerja dengan jujur daripada hanya menunggu bantuan. Ia menilai kondisi ini mencerminkan ketangguhan masyarakat pedesaan Aceh Tengah yang terbiasa hidup dari kerja keras.

“Bencana ini memang berat, tapi warga kami tidak mau menyerah. Selama masih bisa bekerja, mereka akan bekerja,” katanya.

Kehidupan di pengungsian bukan hal mudah. Keterbatasan ruang, fasilitas, dan kebutuhan dasar menjadi tantangan sehari-hari. Namun, bagi warga Ketol, bekerja meski dengan hasil minim tetap menjadi pilihan realistis dibandingkan kehilangan semangat hidup.

Fenomena ini sekaligus menjadi potret ketahanan sosial masyarakat Aceh Tengah dalam menghadapi bencana. Di tengah situasi sulit, nilai gotong royong dan kerja keras masih terjaga.

Warga berharap perhatian semua pihak terus berlanjut, terutama dalam upaya pemulihan pascabencana, baik dari sisi ekonomi maupun tempat tinggal. Selain bantuan logistik, mereka juga berharap adanya dukungan berkelanjutan agar roda kehidupan bisa kembali berjalan normal.

“Yang kami inginkan cuma bisa hidup normal lagi, bekerja seperti biasa, dan kembali ke rumah,” tutup Misran.
×
Berita Terbaru Update