Banjir Bandang Terus Terjadi, Pakar UGM: Kerusakan Hutan di Hulu Jadi Bom Waktu

Ilustrasi banjir bandang di wilayah Sumatra akibat kerusakan hutan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). | Foto : (UGM). | Hs/detikqu.com


detikqu.com | Jakarta – Banjir bandang yang terus berulang di wilayah Sumatra hingga kini dinilai bukan semata akibat faktor cuaca ekstrem. Pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan, kerusakan ekosistem hutan di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) menjadi penyebab utama yang memperparah dampak bencana.


Fenomena ini kembali relevan dibahas di tengah meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi dalam beberapa waktu terakhir. Meski peristiwa besar terjadi pada 2025 lalu, para ahli menilai kondisi lingkungan yang belum pulih membuat potensi bencana serupa masih sangat tinggi hingga saat ini.


Pakar hidrologi hutan UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu telah merusak sistem alami pengendali air. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap dan penahan air hujan kini tidak lagi mampu menjalankan perannya secara optimal.


“Kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS menghilangkan daya dukung dan daya tampung untuk meredam curah hujan tinggi,” ujarnya. 


Ia menerangkan, dalam kondisi normal, hutan bekerja melalui berbagai proses alami seperti intersepsi, infiltrasi, dan evapotranspirasi untuk menjaga keseimbangan air. Namun ketika hutan rusak, air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir deras ke permukaan dan memicu banjir bandang.


Lebih lanjut, Hatma menegaskan bahwa cuaca ekstrem bukanlah satu-satunya penyebab. Faktor tersebut hanya menjadi pemicu awal dari bencana yang sesungguhnya telah “dipersiapkan” oleh kerusakan lingkungan selama bertahun-tahun.


“Curah hujan ekstrem memang ada, tetapi akar masalahnya adalah kerusakan ekosistem dari hulu hingga hilir,” jelasnya.


Data menunjukkan, sejumlah wilayah di Sumatra mengalami pembukaan lahan secara masif, termasuk untuk kepentingan perkebunan dan aktivitas lainnya. Kondisi ini memperburuk daya tahan lingkungan terhadap tekanan alam, sehingga ketika hujan deras terjadi, dampaknya menjadi jauh lebih destruktif.


Bahkan, dalam beberapa kasus, kerusakan di hulu DAS terbukti berdampak hingga ke wilayah hilir. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dilihat secara parsial, melainkan harus ditangani secara menyeluruh dari hulu ke hilir.


Para ahli juga menyebut kondisi ini sebagai akumulasi “dosa ekologis”, yaitu kerusakan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus dan akhirnya memicu bencana besar. 


Sebagai solusi, UGM mendorong langkah konkret seperti penghentian deforestasi, rehabilitasi hutan, serta penerapan tata ruang berbasis mitigasi bencana. Selain itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan hulu.


Jika tidak segera ditangani, para pakar memperingatkan bahwa wilayah Sumatra termasuk Aceh akan terus berada dalam ancaman bencana serupa, terutama saat memasuki puncak musim hujan.


Kondisi ini menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak selalu murni disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga merupakan hasil dari cara manusia memperlakukan lingkungannya.

أحدث أقدم
Beranda Hukum Ekonomi Profil