Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tertekan Dolar AS, Rupiah Kembali Melemah dan Bertahan di Level Rp16.800-an

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:19 WIB Last Updated 2026-09-01T06:29:01Z
Gambar ilustrasi. | Editor : Hidayat Sabirun.


METRO GAYO | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda belum mampu keluar dari tren pelemahan yang telah berlangsung lebih dari sepekan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada perdagangan Selasa (13/1/2026) dibuka di level Rp16.874 per dolar Amerika Serikat (AS).


Posisi tersebut menandai pelemahan 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya, Senin (12/1/2026), yang berada di level Rp16.855 per dolar AS. Dengan kondisi tersebut, rupiah tercatat telah mengalami pelemahan selama delapan hari perdagangan berturut-turut, mencerminkan tekanan yang cukup konsisten di pasar valuta asing domestik.


Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah tercatat di level Rp16.853 per dolar AS. Perbedaan tipis antara kurs pasar dan kurs referensi BI menunjukkan bahwa tekanan rupiah terjadi secara merata di pasar, bukan sekadar volatilitas sesaat.


Pergerakan rupiah pada hari ini sejalan dengan kondisi mata uang regional Asia yang mayoritas berada di zona merah. Tekanan terhadap mata uang Asia menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi dalam konteks sentimen global yang lebih luas.


Berdasarkan data pergerakan mata uang Asia, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 0,41 persen. Tekanan kuat terhadap baht mencerminkan meningkatnya permintaan dolar AS di kawasan, seiring perubahan persepsi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.


Selain baht, won Korea Selatan tercatat melemah 0,34 persen, disusul yen Jepang yang tertekan 0,22 persen. Mata uang lain yang turut terkoreksi adalah dolar Taiwan yang melemah 0,12 persen.


Sementara itu, tidak semua mata uang Asia bergerak negatif. Peso Filipina dan dolar Singapura justru mencatatkan penguatan terbatas, masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,05 persen. Adapun yuan China tercatat tergelincir tipis 0,04 persen, menunjukkan tekanan yang relatif lebih terkendali dibandingkan mata uang Asia lainnya.


Kondisi ini menegaskan bahwa dinamika nilai tukar di kawasan Asia masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya arah kebijakan moneter bank sentral AS dan pergerakan dolar AS di pasar global.


Pelemahan rupiah yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut menjadi perhatian pelaku pasar. Tren ini menandakan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun sebelumnya rupiah sempat bergerak stabil di kisaran tertentu.


Dalam beberapa hari terakhir, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Kondisi ini membuat aliran dana global lebih banyak mengarah ke aset yang dianggap aman, salah satunya dolar AS.


Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya permintaan dolar AS di pasar global, yang secara langsung menekan nilai tukar mata uang negara berkembang. Rupiah pun tidak terhindarkan dari tekanan tersebut, meskipun faktor fundamental domestik relatif stabil.


Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal dibandingkan faktor domestik. Salah satu sentimen utama yang membebani rupiah adalah arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).


“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William yang mengisyaratkan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga,” kata Lukman Leong saat dihubungi Suara.com, Selasa (13/1/2026).


Pernyataan bernada hawkish dari pejabat The Fed tersebut membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi mereka terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga acuan AS. Jika sebelumnya pasar berharap penurunan suku bunga dapat dilakukan dalam waktu dekat, sinyal hawkish tersebut justru memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama.


Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS, yang pada akhirnya memberikan tekanan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.


Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor kunci yang menekan pergerakan rupiah. Ketika dolar AS menguat, mata uang negara berkembang umumnya akan mengalami tekanan karena perbedaan imbal hasil dan persepsi risiko.


Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung menempatkan dana mereka pada aset berdenominasi dolar AS, yang dianggap lebih aman dan memberikan kepastian imbal hasil di tengah ketidakpastian global. Aliran dana keluar dari pasar negara berkembang pun sulit dihindari.


Lukman menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat rupiah masih berpotensi melemah hingga penutupan perdagangan sore nanti. Sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif menjadi tantangan tersendiri bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.


Pelaku pasar saat ini masih menanti kejelasan arah kebijakan moneter global, khususnya dari bank sentral AS. Setiap pernyataan pejabat The Fed memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing.


Ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga membuat pasar cenderung bersikap defensif. Dalam kondisi tersebut, volatilitas nilai tukar menjadi lebih tinggi, terutama bagi mata uang negara berkembang.


Rupiah sebagai salah satu mata uang emerging market turut terdampak oleh kondisi ini. Meskipun fundamental ekonomi domestik dinilai relatif terjaga, sentimen global tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.


Di tengah tekanan global, peran Bank Indonesia tetap menjadi salah satu penopang utama stabilitas nilai tukar rupiah. Melalui berbagai instrumen kebijakan, BI berupaya menjaga agar volatilitas rupiah tetap terkendali dan tidak bergerak terlalu liar.


Kurs Jisdor yang tercatat di level Rp16.853 per dolar AS menunjukkan bahwa pergerakan rupiah masih berada dalam pengawasan otoritas moneter. Meski demikian, tekanan eksternal yang kuat membuat ruang gerak rupiah menjadi lebih terbatas.


Pelaku pasar menilai bahwa selama sentimen global belum membaik, upaya stabilisasi nilai tukar akan menghadapi tantangan yang cukup besar. Oleh karena itu, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama dari AS.


Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif hingga akhir perdagangan hari ini. Penguatan dolar AS yang berlanjut berpotensi membuat rupiah kembali berada di bawah tekanan.


Meski demikian, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dalam rentang yang terkendali, seiring langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Investor juga akan terus mencermati perkembangan sentimen global, termasuk pernyataan lanjutan dari pejabat The Fed dan data ekonomi AS.


Dalam jangka pendek, rupiah masih rentan terhadap perubahan sentimen pasar. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada keseimbangan antara faktor global dan kekuatan fundamental ekonomi domestik.


Pembukaan perdagangan hari ini kembali menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan yang cukup kuat. Dibuka melemah di level Rp16.874 per dolar AS, rupiah mencatatkan pelemahan selama delapan hari berturut-turut. Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga bergerak di zona merah.


Sentimen global, khususnya terkait kebijakan The Fed dan penguatan dolar AS, menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Pernyataan hawkish pejabat The Fed membuat pasar menunda ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga mendorong penguatan dolar AS.


Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global. Selama sentimen tersebut belum mereda, rupiah berpotensi melanjutkan tekanan, meskipun tetap berada dalam pengawasan dan upaya stabilisasi Bank Indonesia.


×
Berita Terbaru Update